JAKARTA (Anthara) – Anggota XII DEWI Yustisiana dari rumah komite perwakilan mengatakan Indonesia kemungkinan akan menjadi pemain kunci dalam baterai kendaraan listrik dunia (EV) dengan kewajiban untuk dukungan kuat dari pemerintah.
“Kita harus melihat peluang besar untuk pengembangan global saat ini sehubungan dengan energi dengan Indonesia dalam hal energi sebagai pemain penting dalam Baterai Kendaraan Listrik -Ekosistem. Ini sejalan dengan prioritas pemerintah hilir,” kata Dewi di Jakarta pada hari Selasa.
Dewi telah mendorong perusahaan yang dimulainya pemerintah dari PT Indonesia Battery Corporation (IBC) yang dimiliki oleh PT Antam, Pt Inalum (Persero), Pt Pertamina New & Renewable Energy dan PT PLN (Persero).
Juga perlu untuk mengatasi batasan -batasan silang yang berbeda dalam pengembangan kendaraan listrik, termasuk produksi baterai, pembangunan infrastruktur pengisi daya, insentif industri.
IBC menghadiri sidang dengan Komite Perwakilan Dewan Perwakilan Jakarta, Senin (17 Februari 2025). Dewi juga meminta IBC untuk menyiapkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) yang dapat diimplementasikan (dapat dieksekusi) dan dapat memperoleh tujuan dan keuntungan bisnis maksimum.
Menurut data IBC, hampir 40-45% bahan baku baterai EV dunia berasal dari Indonesia.
Namun, bahan baku dirawat untuk baterai EV di negara -negara tujuan seperti Cina dan menjadi baterai EV yang didistribusikan ke AS dan Eropa. Oleh karena itu, bahan baku baterai di hilir Indonesia harus strategis dan diprioritaskan.
Pemerintah Indonesia sangat mendesak untuk meningkatkan penggunaan kendaraan listrik sebagai solusi untuk mengurangi kecanduan minyak bahan bakar (BBM) dan polusi udara.
Oleh karena itu, keberadaan industri baterai EV penting sebagai dukungan untuk ekosistem kendaraan listrik.
Pemerintah dan sektor swasta telah secara aktif membangun infrastruktur kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Publik (SPKLU), yang telah meningkat dari sekitar. 1.000 unit pada tahun 2023 hingga 300% hingga 300% pada tahun 2024.
Sementara itu, fasilitas HCS telah tumbuh lebih dari 300%pada tahun 2023 menjadi 28.000 unit pada tahun 2024 dari total 9.000 unit.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meramalkan pembangunan SPKLU ke 5.810 stasiun pada tahun 2025 dan mencapai 9.633 stasiun pada tahun 2026 dan 14.339 stasiun pada tahun 2027 dan meningkat menjadi 26.251 SPKLU pada tahun 2028.
Leave a Reply