Jakarta (Antara) Pemain ekonomi reformasi Willan Syafitri, pekerja asing (TKA), yang bekerja di sektor mineral di Indonesia, menerima 7 hingga 10 kali lebih banyak daripada pekerja lokal di tempat yang sama.
“Jika kita membandingkannya, bayarannya sekitar 7 kali, saya menghitungnya sekitar 10 kali,” katanya.
Dia mengatakan ketidaksetaraan dalam gajinya didasarkan pada studi kasus di Batam dan Kunav, Salavi tenggara.
Dia mengatakan alasan masuknya antara pekerja lokal dan asing adalah karena perbedaan dalam pendidikan masyarakat, sehingga beberapa pekerja lokal dapat menempati posisi kepemimpinan.
“Saya pikir di Batam, (lokal), ada banyak posisi manajemen, tetapi di Konaw masih kecil karena itu karena pendidikan rendah,” katanya.
“Jika pemerintah ingin mengoordinasikan mineral (pengecoran besi) dengan daerah dengan populasi yang sangat sopan atau orang harus meningkatkan keterampilan, celah masuk dapat secara bertahap dihilangkan,” kata Vilean.
“Seperti Jawa Timur, pengecoran besi relatif lebih kecil dalam kelompok itu,” katanya.
Meskipun ada ketidaksetaraan pendapatan, sektor hilir memiliki dampak besar pada promosi ekonomi di bidang, kata Witten. Seperti di Batam dan Cono, ia dapat memiliki pertumbuhan ekonomi hingga 22%.
“Ini berarti bahwa dia (hilir) bisa menjadi pemimpin, sehingga itu akan menjadi pengorbanan,” kata Vian.
Sementara itu, direktur eksekutif Institute for Economy and Finance Development (Indef) Esther Astoti mengatakan: “Masyarakat harus meningkatkan keterampilan untuk bersaing dengan pekerja asing.”
Pemerintah juga diharapkan untuk memperkuat pekerjaan dan integrasi sistem antara kementerian dan lembaga upah.
“Data BPS terlihat, hanya 12 persen dari pekerja migran kami yang sangat berpendidikan, 88 persen masih di sekolah menengah,” katanya.
Leave a Reply