Kabar Harapan

Memberikan Informasi Terupdate Dalam Negri & Luar Negri

KKP: Padang lamun ekosistem karbon biru siap diperdagangkan

Jakarta (Antara) – Kementerian Maritim dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa ekosistem karbon biru, yang siap untuk diperdagangkan, termasuk rumput laut yang memainkan peran penting dalam penyerapan karbon dan pemeliharaan pelunakan iklim.

“Ekosistem karbon biru, yang siap untuk diperdagangkan, termasuk ladang rumput laut,” kata Direktur Pesisir CKP dan Kepulauan Kecil (P4K) Muhammad Yusuf dalam pernyataan Jakarta pada hari Minggu.

Dia mencatat bahwa diperkirakan Indonesia memiliki sekitar 1,8 juta hektar ladang rumput laut, yang sekarang menjalani tahap akhir validasi refleksi untuk memaksimalkan penggunaan penggunaannya dalam perdagangan karbon.

Ekosistem karbon biru, seperti ladang rumput laut, memainkan peran penting dalam menyerap emisi karbon dioksida, yang dapat mengurangi efek perubahan iklim global.

KKP juga menekankan pentingnya ketahanan dalam pengelolaan penangkapan dan budidaya penangkapan ikan sebagai bagian dari upaya pengurangan iklim melalui perdagangan karbon, termasuk sektor kelautan.

“Ladang rumput laut memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan lebih banyak emisi karbon daripada hutan tropis,” katanya.

Selain ladang rumput laut, sektor penangkapan ikan, seperti program penangkapan ikan yang diukur, juga dapat berkontribusi pada perdagangan karbon dengan mengurangi lebih banyak emisi dari kapal ikan yang lebih efisien.

“Tentu saja, tidak hanya rumput laut, perikanan dan budidaya, yang dilakukan, juga dapat diubah menjadi perdagangan karbon,” jelas Yusuf.

Dengan potensi besar, Indonesia diharapkan bahwa perdagangan karbon berdasarkan suatu ekosistem akan menjadi solusi inovatif dalam mengurangi emisi karbon dan meningkatkan kesejahteraan komunitas pesisir.

“Misalnya, program penangkapan ikan yang diukur, di mana lokasi penangkapan ikan dengan penanaman ikan menjadi lebih pendek, sehingga mengurangi pembuangan emisi dari kapal penangkap ikan,” kata Yusuf.

Diketahui bahwa Kementerian Maritim dan Perikanan merilis pelepasan KP 1 pada tahun 2025 sebagai payung yang sah untuk pengenalan nilai ekonomi karbon sektor karbon. Termasuk persiapan sistem informasi untuk memfasilitasi perdagangan.

Peraturan tersebut mencatat bahwa penyelenggara nilai ekonomi sektor karbon dapat dilakukan oleh kementerian, pemerintah daerah, entitas bisnis dan masyarakat.

Ada dua mekanisme untuk pengenalan nilai ekonomi karbon, yaitu melalui perdagangan, serta pembayaran berdasarkan efisiensi.

Sebelumnya, CEO Administrasi Maritim dan ruang maritim Victor Gustaf Manoppo berfokus pada rumput laut (rumput laut) dengan perkiraan luas 1,8 juta hektar dan pohon bakau dalam strategi karbon biru.

Ekosistem rumput laut di Indonesia, terus menyerap 790 juta ton karbon (CO2) dengan nilai tunai $ 35 miliar yang diperkirakan.

Sementara ekosistem Mangrove Indonesia dengan luas sekitar 3,36 juta hektar dapat menyerap 11 miliar ton karbon (CO2) dengan perkiraan nilai tunai $ 66 miliar.

Sebagai pengenalan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di sektor ini, CCP berupaya memperluas zona konservasi laut sebesar 30 persen pada tahun 2045.

Upaya lain yang harus dilakukan adalah melalui kebijakan manajemen pulau -pulau dan pulau -pulau kecil, strategi yang mengatur penggunaan ruang laut, termasuk penciptaan area penyimpanan cadangan karbon biru dan area pengelolaan ekosistem pesisir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *