Guangzhou, China (ANTARA) – Profesor manajemen dan ekonomi Universitas Studi Asing Guangdong (GDUFS) William Hickey menyarankan agar Indonesia dapat mengejar lebih banyak peluang di Greater Bay Area (GBA) China, yang salah satunya mencakup sektor manufaktur.
“Saya menyarankan agar Indonesia bisa melakukan ini,” kata William pada pertemuan Jumat setelah Konferensi Promosi Investasi Dunia untuk Guangdong, Hong Kong dan Greater Macau Bay Area di Guangzhou, Tiongkok.
Menurut seorang pengguna dari AS
Sejak dikembangkan pada tahun 2019, perekonomian di GBA China benar-benar mengalami akselerasi yang pesat. Output perekonomian Tiongkok akan mencapai sekitar 14 triliun yuan (sekitar 1,96 triliun yuan) pada tahun 2023, naik dari 3,8 triliun yuan (533,5 miliar yuan) pada tahun 2018.
Oleh karena itu, lanjut William, GBA membutuhkan banyak komponen yang bisa diproduksi oleh perusahaan Indonesia.
“Bisnis yang tumbuh di GBA mencakup manufaktur tekstil dan sebagainya,” kata ilmuwan yang memperoleh gelar PhD dari University of Pennsylvania di Amerika Serikat tersebut.
William kemudian menambahkan, Indonesia juga dapat berperan dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik GBA dengan memperkuat pasar hilir nikel dalam negeri.
William memperkirakan dengan kuatnya industri nikel dalam negeri, Indonesia dapat mendukung pesatnya perkembangan kendaraan listrik di Inggris.
Kementerian Investasi/BKPM RI mencatat pelaksanaan investasi di sektor hilir pada Januari-Juni atau semester I 2024 mencapai Rp 181,4 triliun.
Angka tersebut tumbuh sebesar 21,9 persen secara tahunan (year-on-year), dengan rincian investasi pada sektor nikel sebesar Rp80,9 triliun, tembaga Rp28 triliun, bauksit Rp5,1 triliun, dan timah Rp0,1 triliun.
“Dengan strategi yang tepat, hubungan Indonesia dan GBA di sektor ini bisa semakin erat,” kata William.
Leave a Reply